Senin, 26 Maret 2012

Cinta Menurut ajaran Agama


Cinta Menurut ajaran Agama

BAB I

PENDAHULUAN 

A . Latar Belakang

Pada pembahasan kali tema yang saya bahasa adalah cinta menurut ajaran agama
 khususnya Indonesia disebut sebagai cerminan budaya yang terkenal banyak 5 agama yang berbeda dikarenakan mayoritas penduduknya menjunjung nilai kesopan santunan yang tinggi terhadap sesame agama , bukan itu saja agama lain khususnyabangsa selain Indonesia dapat terbuka dan ramah terhadap bangsa asing yang datang ke Indonesia sehingga hal itulah yang membuat bangsa lain betah untuk datang ke Indonesia bahkan betah untuk menetap sebagai WNI .

B. Tujuan

Ada yang berpendapat bahwa etika cinta dapat dipahami dengan mudah tanpa dikaitkan dengan agama. Tetapi dalam kenyataan hidup, manusia masih mendambakan teganya cinta dalam kehidupan ini. Disatu pihak, cinta didengung-dengungkan lewat lagu dan organisasi perdamaian dunia, tetapi dilain pihak, dalam praktek kehidupan, serta sebagai dasar hidup jauh dari kenyataan. Atas dasar ini, agama memberikan ajaran cinta kepada manusia. Tidak kurang seorang Nabi yang bernama Ibrahim yang mendapat kritik tentang cinta. Suatu saat Ibrahim mendambakan seorang anak. Setelah ahir anak yang dicintainya (Ismail), ternyata cinta Ibrahim kepada anaknnya dapat menggeser cintanya kepada PenciptaNya sehingga Tuhan mencobanya dengan menyuruh Ibrahim menyembelih anaknya. Perintah ini menimbulkan konflik dalam diri Ibrahim, siapa yang harus dicintai, Tuhan atau anaknya.

BAB II 
ISI 

C . Pembahasan 
Sudah disebutkan beberapa faktor mengapa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang identik akan ajaran agama untuk mencintai namun pada bab pembahasan ini penulis akan membahas kembali secara terperinci faktor-faktor tersebut.





Ø      Cinta Diri

Al-quran telah mengungkapkan cinta alamiah manusia terhadap dirinya sendiri, kecenderungan untuk menuntut segala sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi dirinya, dan menghindari diri dari segala sesuatu yang membahayakan keselamatan dirinya, mulai ucapan Nabi SAW. Bahwa seandainya dia mengetahui hal-hal yang gaib, tentu dia akan memperbanyak hal-hal yang baik bagi dirinya dan menjauhan dirinya dari segala keburukan
Ø      Cinta Kepada Sesama Manusia

Alla memerintahkan manusia agar saling mencintai diantara sesamanya.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Q.S 49:10).

Dalam al-qur’an terdapat pujian bagi kaum Anshar karena rasa cintanya kepada kaum Muhajirin. Orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah berian (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hat mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka )orang Muhajirin); mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka sendiri dalam kesusahan.

Ø      Cinta Seksual

Cinta erat kaitannya dengan dorongan seksual. Hal ini dituliskan dalam al-qur’an :

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jeismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikannya diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kamu yang berfikir” (Q.S 30:21).

Ø      Cinta Kebapakan

Cinta ibu kepada anaknya, atau dorongan keibuan, merupakan dorongan fisiologis. Artinya, terjadi perubahan-perubahan fisiologis dan fisis yang terjadi pada diri si ibu sewaktu mengandung, melahirkan, dan menyusui. Dorongan kebapakan tidak seperti dorongan keibuan, tetapi dorongan psikis. Hal in tampak dalam cinta bapak kepada anaknya karena ia merupakan sumber kesenangan dalam kegembiraan baginya, sumber kekuatan dan kebanggaan, dan merupakan faktor penting bagikelangsungan peran bapak dalam kehidupan, dan tetap terkenangnya dia seteah meninggal dunia. Hal ini nampak jelas pada cinta Nabi Yakub a.s kepada puteranya, Yusuf a.s, yang membangkitkan cemburu adiknya dan dengki saudara-saudaranya yang lain.

Ø      Cinta Kepada Allah

Puncak cinta manusia yang paling jernih, bening dan spiritual ialah cintanya kepada Allah swt dan kerinduan kepada-Nya. Tidak hanya shalat, pujian, dan doanya, tetapi semua tindakan dan tingkah lakunya ditujukan kepada Allah, mengharapkan penerimaan dan ridha-Nya. Dalam firman Allah:

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah kau, nsicaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah maha pengampun lagi maha penyayang” (Q.S 3:31).

Cinta seorang mukmin kepada Allah melebihi cintanya kepada segala sesuatu yang ada didalam kehidupan ini, melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, anak-anaknya, isteri-isterimnya, kedua orang tuanya, keluarganya, dan hartanya.



BAB III

PENUTUP

D . Kesimpulan


Dalam pembahasan kali ini kita dapat ambil sebuah kesimpulan bahwa cinta menurut agama khususnya Indonesia telah mengukir citra baik dimata agama lain yang akan terus jika sifat ini terus dilakukan dan dibudayakan dalam kehidupan sehari-hari dan yang paling penting adalah terus menjadikan sifat baik dan islamiah ini sebagai sifat yang mendarah daging dan menjadikan sifat baik ini warisan baik untuk generasi selanjutnya .

E . SARAN 
Penulis sangat mengaharapkan sifat baik yang diajarkan kepada leluhur kita akan terus selamanya menjadi orang yang mencintai seseorang dan menghargai  keramahannya , kesopan santunannya , keterbukannya dan kepeduliannya terhadap sesama sehingga begitu kita menyebutkan bangsa Indonesia yang diingat hanyalah hal tersebut .

download file via 4share.com
http://www.4shared.com/file/pGi5nnaa/file.html



 




0 komentar:

Posting Komentar